Indian Ocean Dipole (IOD) : “Kondisi Umum Indian Ocean”

“To understand a science it is necessary to know its history.” -August Comte, 1798-1857-

Saat kita mendengar mendapat materi kuliah mengenai Indian Ocean Dipole (IOD), yang pertama dikenalkan pasti tentang adanya perbedaan anomali Sea Surface Temperature (SST) antara wilayah timur India Ocean dengan wilayah baratnya. Dari perbedaan anomali SST tersebut, saat wilayah timur India Ocean mengalami anomali SST negatif (lebih dingin dari normalnya) dan wilayah barat mengalami anomali SST positif (lebih hangat) maka wilayah di timur Indian Ocean basin akan mengalami pengurangan curah hujan yang bisa menyebabkan kekeringan, dan sebaliknya wilayah barat Indian Ocean basin akan mengalami peningkatan curah hujan yang bisa menyebabkan banjir. Selain mengakibatkan pengurangan/penambahan curah hujan, IOD juga memberi dampak lain seperti peningkatan kerusakan terumbu karang di sepanjang pantai barat Sumatera, meningkatnya penyebaran kasus malaria di Afrika timur serta mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan di wilayah Indonesia dan Australia.

IOD

Kondisi yang kita sebutkan diatas merupakan kondisi anomali yang terjadi saat IOD. Kemudian kalau itu merupakan kondisi anomali, maka bagaimana kondisi normalnya atau kondisi umumnya ? Nah… ini lah yang ingin saya tuliskan dalam catatan kecil ini. Hal ini saya rasa penting karena kita selalu diberi pengetahuan mengenai anomali yang terjadi namun kita sendiri tidak tahu apa dan bagaimana kondisi yang umumnya biasa terjadi di INDIAN OCEAN EKUATOR (saat tidak terjadi IOD).

Mari coba kita lihat bagaimana kondisi umum di Indian Ocean ekuator. Ada yang unik pada kondisi umum di Indian Ocean dibanding dengan di samudera di belahan bumi lainnya, setidaknya ditinjau dari 3 aspek yaitu pola sebaran spasial SST, pola angin zonalnya dan kedalaman thermoklinnya. Ketiga aspek ini berkaitan satu dengan yang
lain. Pertama kita lihat pada sebaran spasial SSTnya, secara umum wilayah timur Indian Ocean ternyata lebih HANGAT dibanding dengan wilayah baratnya. Hal ini berbeda dengan saudaranya di Pasifik maupun Atlantik dimana wilayah timur Pasifik dan Atlantik umumnya justrus lebih DINGIN daripada wilayah baratnya (ingat, wilayah timur Pasifik punya daerah “cold tongue”). Kondisi wilayah timur Indian Ocean yang lebih hangat ini dikarenakan adanya sirkulasi angin monsun yang berbalik arah secara musiman (bergerak dari Southeast pada bulan May-September dan bergerak dari Northwest saat November-Februari).

Penjelasan bagaimana sirkulasi angin bisa mempengaruhi sebaran SST dibawah ini sekaligus menjelaskan keunikan yang kedua yaitu keunikan pada angin zonalnya. Pada bulan peralihan (April-Mei dan Oktober-November) terdapat angin baratan yang kuat dan angin ini menjadi lemah pada saat bulan – bulan monsun. Seperti kita ketahui bahwa
wilayah India Ocean sebagian besar terdiri lautan hanya di bagian selatan ekuator sedangkan di bagian utara ekuator sebagian besar merupakan wilayah continent. Kondisi ini menjadikan wilayah Indian Ocean memiliki angin monsun yang merupakan bentuk respon intraksi laut dan daratan terhadap perbedaan insolasi akibat gerak semu
matahari. Kondisi ini sangat berbeda dengan Pacific Ocean maupun Atalantic Ocean yang baik di BBU maupun di BBS merupakan terdiri dari lautan seluruhnya sehingga mereka tidak memiliki pola angin monsun di wilayahnya.

Angin baratan yang kuat pada saat bulan peralihan ini menggerakkan arus laut yang kuat di sepanjang ekuator (dengan kecepatan mencapai 1 m/detik), arus ini dikenal dengan sebutan “Wyrtki jet”. Wyrtki jet inilah yang menggerakkan massa air laut hangat pada lapisan permukaan bergerak ke arah timur dan kemudian berakumulasi di dekat pinggir pantai timur Indian Ocean. Akumulasi massa air laut ini menyebabkan thermoklin di wilayah timur menjadi lebih dalam dibanding di wilayah barat dengan begitu volume air hangat dan heat content di wilayah timur menjadi lebih besar. Hal ini berbeda dengan Pacific Ocean yang justru warm pole normalnya berada di wilayah barat
Pacific Ocean.

Nah uraian mengenai keunikan Indian Ocean tersebut sekaligus memberikan gambaran mengenai bagaimana kondisi umum dari Indian Ocean ditinjau dari sisi sebaran SST, pola angin serta kedalaman thermokline. Semoga catatan kecil ini bermanfaat.

Reff. :

  1. Cai, et.al., 2013. “Projected response of the Indian Ocean dipole to greenhouse warming”
  2. Vinayachandran, et. al., 2009. “Indian Ocean Dipole : Processes and impacts”
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s